• 9th February
    2014
  • 09
  • 12th January
    2014
  • 12

'Teman' #2

"Din, besok hibur gue."

"Gw harus lembur, Ra."

"Gak mau tau, lo utang sama gw."

Dan telepon itu pun ditutup dari arah sebrang. Gw gak ngerti lagi sama hubungan gw sama Tora.

Iya sih gw banyak utang sama dia, setiap gw butuhin dia selalu ada, entah dia dalam kondisi apapun gw gak mau tau. Kali ini gw yang ditodong, bukannya gak mau, tapi gak bisa. Apalah daya, yang ada gw bohong sama tim gw.

Tora datang dengan muka kacau, langsung memeluk gw. Dia bukan ada masalah, dia hanya lelah. Seperti ada telepati, kami hanya diam, saling memeluk dan mendamaikan satu sama lain.

"This is your time, giliran lo yang harus hibur gw yah."

Dan kalimat itu diakhiri dengan ciuman panjang di belakang supir taksi. Dan gw selalu tahu kemana perjalanan ini berakhir.

#Fiksi

  • 12th January
    2014
  • 12
  • 12th January
    2014
  • 12
  • 12th January
    2014
  • 12
Jika saat ini kita bingung dihadapkan pada pilihan-pilihan, bersyukurlah. Di luar sana, banyak orang yang bahkan tidak memiliki pilihan sama sekali dalam hidup

kurniawangunadi

(via kurniawangunadi)
  • 12th January
    2014
  • 12

Hidup

Saya selalu percaya hidup yang dirasakan adalah hasil dari usaha. Sisanya adalah bagian Yang Maha Kuasa.

Saya berasal dari keluarga paspasan cenderung kekurangan, tapi saya tidak pernah menyerah. Saya berusaha, menggadaikan waktu bermain untuk belajar, menjual waktu hangout dengan bekerja untuk sekedar mandapatkan uang jajan. Namun, saya tidak pernah merasa superior atau terbuang, saya menjalaninya seperti rutinitas biasa.

Saat ini, saya melihatnya sebagai harga yang harus dibayar untuk mendapatkan penghidupan yang lebih layak. Memang saya belum mencapai tujuan, namun setidaknya harga yang saya bayar sudah sedikit menunjukkan hasilnya.

Sayangnya, dengan latar belakang seperti itu membuat saya yang sekarang sangat membenci orang yang hidup susah yang ketika saya lihat karena mereka tidak mau usaha. Saya tahu, kuasaNya adalah ujung tombak dari usaha itu, namun apakah kamu tidak dapat menambah usaha itu jika Dia masih belum memberikan mengizinkan? Apakah kamu akan membiarkan anak cucumu terus hidup dalam kesusahan? Atau kamu berharap anak cucumu kelak yang akan membawamu ke kehidupan yang lebih layak?

Karena saya selalu yakin :
” Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri mereka ” (QS 13:11)

#Tulisan

  • 12th January
    2014
  • 12
  • 12th January
    2014
  • 12

Hancur

Mengingat beberapa bulan lalu, saat itu aku benar-benar merasa hancur. Entah apa yang sebenarnya terjadi, rasa terbuang, kecewa, marah, benci, dan hina semua menjadi satu.

Aku tidak mengerti apa penyebabnya. Kehilangan seseorang mungkin dapat menjadi salah satunya, namun apakah benar sehancur ini?

Tiga bulan berlalu, aku masih bisa merasakan pahitnya saat itu. Pahit yang ingin segera dilupakan. Bukan, aku bukan benar-benar ingin menghilangkan kamu dalam kehidupanku. Aku hanya ingin mengingat kamu dengan manis.

Sampai saat ini aku masih tidak dapat mengerti dengan jelas mengapa aku bisa sehancur itu sampai hubungan sosialku dengan orang lainpun terganggu. Teman2 terdekat menerka bahwa itu adalah cinta. Cinta yang tidak pernah direncanakan ada namun hadir begitu saja karena dua fisik yang bertemu dan saling butuh. Dengan setengah hati akupun menolaknya, hubungan kami sudah dilandasi oleh perjanjian tidak saling cinta, dan aku tahu bahwa aku tidak pernah melanggarnya.

Tiga bulan, bukan waktu yang cukup untuk sekedar melupakan malam keparat itu dan membiarkanku terbiasa dengan hadirmu yang tidak sehangat biasanya.

Kamu akan selalu ada sampai aku yang memutuskan untuk pergi. Haruskah aku pergi hanya untuk membuangmu? Atau tetap seperti ini sampai entah kapan?

#Fiksi

#sebuah tulisan terinspirasi dari berbagai blog favorit.. mungkin ada sedikit persamaan, tapi gak bermaksud plagiat, hanya newbie yang mencoba mengembangkan kata#

  • 17th November
    2013
  • 17
  • 17th November
    2013
  • 17